Tanya Ustadz

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته


إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.

Pembaca (semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan bimbingan kepada kita semua), apabila Anda ingin menyampaikan pertanyaan berkaitan dengan permasalahan agama, dapat disampaikan dengan menuliskannya di room komentar di bawah ini.

Insya Allah, pertanyaan-pertanyaan yang masuk, akan dijawab oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi. Kami memohon maaf apabila mungkin di antara pertanyaan pembaca tidak dapat segera dijawab karena adanya kesibukan, keterbatasan waktu, dan berbagai hal yang lain. Kita berdoa kepada Allah semoga memudahkan segala urusan kita. آمين

و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

  1. Abdun Nuur
    October 3, 2009 at 2:23 am

    Bismillah, afwan ustadz, ana mau tanya, Apa maksud hadis yg mngatakan tdk ada i’tikaf kcuali di masjid Al Haram dan Nabawai?
    Lalu ada seseorang yg membeli tanah pada zaman belum krisis dgn harga 1 juta yg dimana uang sebanyak itu tdk sebanding lagi nilai dgn uang 1 juta pula di zaman sekarang ini, lalu org yg telah kita beli tanahnya itu ingin membeli tanahnya kembali dgn harga yg sama yakni 1 juta, namun bukankah itu tdk adil sebab 1 juta dulu (tahun 1997) dan 1 juta skarang (tahun 2009) nilainya sudah sangat jauh berbeda? lalu apa yg bisa sy lakukan?

    • Abdullah
      October 3, 2009 at 5:39 am

      klo menurut saya (sebagai orang awam): antum kan yang memiliki tanah itu, jadi antum berhak untuk menolah harga segitu, atau mengajukan harga lain yang pantas untuk ukuran sekarang, kenapa mesti bingung?

    • October 3, 2009 at 11:33 am

      Untuk akhi fillah, Abdun Nur, semoga Allah memberkati anda.

      1. Hadits “tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid’ diperselisihkan ulama tentang keshohihannya, mayoritas mereka melemahkannya. Dan “anggaplah” shohih, maka maksudnya adalah tidak sempurna (bukan tidak sah) i’tikaf kecuali di tiga masjid. Inilah pendapat yang kuat menurut kami. Wallahu A’lam.

      2. Kalau memang antum sudah membeli tanah tersebut secara sah, maka tanah tersebut sudah menjadi milik anda, sehingga anda punya hak untuk menolak atau menerima tawaran pemiliki pertama yang ingin membeli lagi tanahnya tersebut. Jadi tidak harus anda menjualnya dengan 1 juta juga. Wallahu A’lam.

  2. Jalaluddin
    October 3, 2009 at 2:27 am

    Assalamu alaikum ustad. Ana punya prmasalahan yang membuat ana bingung. Ana seorang pemula dalam thalabul ilmu, karena tempat kerja ana jauh dari tempat ta’lim, jadi ana jarang mengikuti ta’lim. Untuk tidak ketinggalan kajian, ana sering download audio kajian dari situs-sirus salaf, seperti radiorodja, radiomuslim, dan kajian.net, selain itu ana juga bnyak belajar dari buku. Ana pernah membaca sebuah buku dikatakan bahwa Syaikh Utsaimin melarang seorang thalabul ilmu belajar agama hanya dari buku, karena akan banyak penyimpangannya. Nah sehubungan dengan masalah ana ini, ana ingin minta pendapat atau tanggapan dari ustad.
    Syukran katsira

    • October 3, 2009 at 11:28 am

      Untuk akhi fillah Jalaluddin,

      Wa’alaikum Salam.
      Menuntut ilmu itu dengan dua cara:

      1. Talaqqi alias duduk di hadapan seorang ustadz atau pengajar, inilah cara belajar yang paling bagus dan utama karena banyak manfaatnya seperti lebih mudah memahami, melihat langsung akhlak ustadz, mendapatkan keutamaan majlis ilmu dll.

      2. Belajar secara tidak langsung, baik dengan kaset, kitab, majalah, cd, internet dll.

      Oleh karenanya, kalau memang bisa, hendaknya antum mencari cara yang pertama karena itu lebih utama, namun kalau memang tidak bisa, maka jangan tinggalkan cara yang kedua. “Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian”. Adapun maksud para ulama yang melarang sekedar belajar dari kitab saja, karena dikhawatirkan salah dalam memahami ilmu tanpa bimbingan ustadz sehingga sesat dan menyesatkan. Wallahu A’lam.

  3. Prasetyo
    October 3, 2009 at 3:32 pm

    Apakah Ihya’ut Turots msh diatas manhaj salaf atau dah mnyimpang ?.

    Ana bc d situs salafy.Or.Id
    bahwa para ulama smisal syaikh rabi’ brkata ihya’ut turots tlah mnyimpang dr manhaj salaf.Tuk lbh mudahnya antum bs buka cata2n facebook ana.Smua rujukan yg da diblog antum sumberny dr firqoh sururiyah.->Prasetyo Al Atsary

    • October 4, 2009 at 8:36 am

      # Untuk saudaraku, Prasetyo – بارك الله فيك –

      لو كنت تعلم ما أقول عذرتني

      أو كنت أعلم ما تقولو عذلتكا

      لكن جهلت مقالتي فعذلتني

      و علمت أنك جاهل فعذرتك

      Andai ‘kau paham apa yang kuucapkan,
      Niscaya ‘kau ‘kan maafkan diriku…

      Atau ‘ku tahu ucapanmu,
      Maka ‘ku kritik dirimu…

      Namun, ‘kau ‘tak pahami untaian kataku,
      Hingga ‘kau cela diriku…

      Dan ‘ku tahu dikau bodoh,
      Maka ‘ku maafkan dirimu…..!

      [Puisi Khalid bin Ahmad Al-Farahidi, ahli nahwu pencetus ilmu ‘arudh. Lihat syair ini di kitab الوافي و الوفيات , halaman 1884 dan kitab مجمع الحكم و الأمثال, keduanya via software المكتبة الشاملة]

      —admin—

    • Kawan Yusuf
      October 4, 2009 at 8:46 am

      Untuk Prasetyo

      Perkataan Anda, “Smua rujukan yg ada diblog antum sumberny dr firqoh sururiyah.

      Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun…!!!! Siapa yang Anda katakan sururiyyah di blog ini? Anda sudah membaca semua tulisan ustadz di blog ini? Mana yang sururi? Subhanallah…. Ittaqillah! Ittaqillah!

      Ustadz bermulazamah langsung dengan para masyaikh di Markas Syaikh Ibnu Utsaimin selama kurang lebih empat tahun, dan sebagian tulisan-tulisan beliau ini ditulis ketika beliau masih di Unaizah Saudi, hingga beliau pulang ke Indonesia sekitar satu tahun yang lalu. Bahkan ,beliau bermulazamah langsung dengan Syaikh Sami As-Sughayyir yang tidak lain adalah murid utama, dan menantu Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin, bahkan pengganti majelis Syaikh Ibnu Utsaimin di Unaizah.

      Jaga lisan antum akhi….

      Saya beritahu antum bahwa UStadz Yusuf itu tidak sempat buka facebook, apalagi buka FB antum. Beliau itu disibukkan dengan majelis ilmu dan penulisan karya tulis. Adapaun akun FB beliau dan blog ini yang memuat tulisan-tulisan beliau, dibuat oleh shahabat-shahabat beliau di kota Jogja. Adapun ustadz, hanya sempat susun risalah ilmiah dan menjawab berbagai pertanyaan di blog. Beliau sangat jarang ngenet, kecuali hanya untuk kirim artikel!!!!

      • Ikhwan Jogja
        October 4, 2009 at 8:52 am

        Allahu Akbar, Anda benar akh “Kawan Yusuf”.

        # Untuk Ustadz Yusuf/admin
        => Saya gembira sekali melihat ustadz turut berpartisipasi dalam dakwah di dunia maya. Saya langsung sebar ke 2000-an teman facebook di internet. Dan masya Allah, tanggapannya LUAR BIASA….

        => Oh ya, saya mendapat email dari teman FB bahwa grup Forum Penulis Muslim di FB yang secara rutin kirimkan artikel ustadz Yusuf, dijadikan bahan pembicaraan oleh pihak2 yang membenci dakwah tauhid (istilahnya mereka itu -anti wahabi- meskipun kita tidak menisbatkan diri pada wahabi)

        => ada juga yang mencela ulama-ulama yang dinukilkan ustadz, khusunya Syaikh Al-Albani.

        => saya melihat betapa para pembenci dakwah tauhid dan sunnah demikian TERBAKAR melihat tulisan-tulisan ustadz. Dan kini, banyak disebar tuduhan dusta, khususnya tentang Syaikh Muhammad bin Abdil WAhab dan Syaikh Al-Albani, yang kesemuanya itu sebenarnya telah ustadz jelaskan dalam buku “MEluruskan Sejarah Wahabi” dan “Syaikh Al-Albani Dihujat”

        => Saya SANGAT MENYARANKAN AGAR tulisan-tulisan ustadz di kedua buku tersebut juga diposting sebagai bantahan telak bagi penentang dakwah tauhid. Ya Allah, penyebaran syubhat di internat benar2 dahsyat Ustadz, apalagi setelah tulisan antum masuk di internet.

        Sangat sayang tuliasn antum di kedua buku antum tersebut tidak tersebar di internet karena pembenci dakwah tauhid mana mau beli buku “wahabi”-menurut istilah mereka-

        Saya punya banyak teman FB yang bencinya bukan main dengan namanya Muhammad bin Abdul Wahab, bahkan ada yang di Makkah. Kalau tulisan antum tentang wahabi dan pembelaan terhadap Syaikh Al-Albani dimuat di internet, insya Allah akan saya forward sebanyak-banyaknya, ribuan orang di facebook.

        • October 4, 2009 at 4:25 pm

          Jazakallahu khoiron ya akhi, semoga ana bisa mewujudkan usulan antum dalam waktu dekat.

  4. ruly
    October 3, 2009 at 4:03 pm

    bismillah.. ana mau tny ustadz, apa hukum kasih uang di undangan pernikahan???

    • October 4, 2009 at 4:11 pm

      Untuk akhi fillahi, Rulli, semoga Allah menjaga anda
      Memberi uang ketika undangan pernikahan hukumnya boleh-boleh saja bahkan sangat bagus berdasarkan keumuman dalil anjuran membantu sesama muslim, saudara kita yang sangat membutuhkan saat itu, setahu ana tidak ada larangan dalam masalah ini. Wallahu A’lam.

      • ruly
        October 6, 2009 at 1:43 pm

        jazakallohu khoiron ustadz.. oh ya bagaimana salaf dalam mengambil ilmu?? apakah kita mesti melihat dari siapa kita mengambil ilmu??
        ada kawan saya beranggapan ada ulama yg memberi syarat jika kita boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah?? mohon pencerahanannya..

        • ruly
          October 21, 2009 at 8:13 pm

          ustad..?! bisa diterangkan.. Mohon pencerahan atas pertanyaan ana diatas ini.. Jazakallohu khoiron..

          • October 21, 2009 at 8:20 pm

            Imam Ibnu Sirin berkata: “Ilmu itu adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama”.

            • ruly
              October 21, 2009 at 8:46 pm

              jadi mutlak soal ilmu dari ahli bid’ah tidak boleh kita tempuh??

  5. Niswah Hasanah
    October 4, 2009 at 12:14 pm

    Assalaamu’alaykum Ustadz.
    Apa hukumnya acara tukar kado? Dalam suatu acara semua hadirin membawa kado yang telah ditentukan minimal harganya. Kado-kado berbungkus kertas koran tersebut diberi nomor. Setelah semua kado terkumpul, hadirin mengambil secarik kertas bertuliskan nomor yang akan dicocokkan dengan kado yang akan mereka terima. Ada yang senang karena kado yang diterima bagus, namun ada juga yang kurang berkenan karena kado yang diterima tidak sesuai di hati.
    Jazakumullah khair…

    • October 4, 2009 at 4:16 pm

      Ukhti fillahi, Niswah Hasanah, semoga Allah memberkati anda

      Pada asalnya kado boleh-boleh saja,

      namun kado dengan model seperti itu setahu ana adalah meniru gaya orang-orang kafir yang kita dilarang meniru mereka, maka sebaiknya dijauhi dan ditinggalkan.

      Wallahu A’lam. (Akhukum: Abu Ubaidah)

  6. hadi Tama
    October 4, 2009 at 3:45 pm

    السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

    Ustadz – بارك الله فيك -, saya diundang untuk menghadiri acara syukuran oleh seseorang yang pada tahun ini beliau diberi kemudahan oleh Allah untuk menunaikan ibadah haji. Bagaimana hukum menghadiri acara tersebut?

    جزاك الله خيرا

    و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

    • October 6, 2009 at 4:42 am

      Untuk akhi fillahi, Hadi Tama, Semoga Allah memberkati anda
      Boleh anda menghadiri acara tersebut, karena acara itu bukan suatu yang haram, itu hanya adat saja, namun hal itu disyaratkan bila dalam acara tersebut tidak ada kemunkarannya. Wallahu A’lam.

  7. Adid Adep Dwiatmoko
    October 4, 2009 at 7:43 pm

    Assalaamu’alaikum Ustadz,

    saya mau menanyakan, kaidah dalam menghukumi dan mensikapi bid’ah, dan sikap kepada ulama yang pendapatnya keliru sehingga menghasilkan hukum bid’ah.

    kapankah kita harus bersikap keras, dan kapankah tidak harus bersikap keras? karena ada sebagian perkara bid’ah yang memang diperselisihkan sebagian ulama, seperti dalam masalah sedekap waktu i’tidal dan seterusnya?

    kemudian, dalam masalah berikut ini, apakah kita harus bersikap keras Ustadz?
    1. masalah membayar zakat dengan uang
    2. menentukan awal ramadhan dengan hisab
    dan permasalahan yang laennya Ustadz..

    terima kasih, jazaakumullooh khoiron.

    • October 6, 2009 at 4:49 am

      Akhi fillahi, Adid, semoga Allah merahmati anda

      Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua macam:
      1. Perbedaan dalam hal-hal prinsip aqidah dan kesepakatan ulama, di sini kita harus bersikap keras terhadap orang yang menyelisihi kebenaran.
      2. Perbedaan dalam masalah-masalah ijtihadiyyah (ada ruang ijtihad ulama) dan masing-masing memiliki dalil yang kuat, biasanya adalah masalah fiqih, di sini kita harus berlapang dada dan memahami perbedaan yang ada seperti masalah i’tidal.

      • Adid Adep Dwiatmoko
        October 6, 2009 at 12:29 pm

        jazaakumullooh khoiron Ustadz atas penjelasannya.

  8. Ummu Hindun
    October 5, 2009 at 4:05 am

    Assalamu’alaykum

    Bismillah, ust jika busana seorang muslimah sdah memenuhi 8 syarat (tdk menclok,tebal,dll), namun krudung selapis dan panjangnya se perut. Apakah itu blm syar’i? Sampai brp panjang minimal krudung? Apakah sampai dada spt di An Nur 31 atau harus sampai lutut? Dan apa perbedaan Jilbab n Khimar? Jazakallah khayran katsiran.

    • October 6, 2009 at 4:52 am

      Ukhti fillahi, Ummu Hindun, semoga Allah memberikan taufiq kepada anda

      Wa’ alaikun salam. Krudung tersebut sudah memenuhi syarat karena telah menutupi aurat. Wallahu A’lam.

    • October 6, 2009 at 5:17 am

      Ukthi fillah, Ummu Hindun, semoga Allah meneguhkan anda di atas agama
      Wa alaikum Salam
      Krudung dengan panjang sampai perut sudah memenuhi syarat jilbab syar’i, karena sudah menutup aurat. Wallahu A’lam.

  9. abu naifa
    October 5, 2009 at 4:48 am

    assalamualikum warahmatullah.
    mohon pencerahan atas permasalahan saya sekarang ini..
    1.ana bekerja diluar negeri,8bulan yang lalu ketika ana pulang ke Indonesia,dinyatakan ana masih punya hutang kepada syarikat.memang dalam syarikat ini ana dan kawan2 bisa ambil gaji beberapa bulan sekaligus. namun yang ana yakini bahwa ana tidak mengambil gaji melebihi batas gaji yang seharusnya ana terima. ternyata setelah ana cross cek bersama bos ana,masalahnya kenaikan gaji ana tidak dilaporkan kepada akuntan. sehingga akuntan hanya melaporkan gaji lama ana. memang benar kenaikan gaji tidak secara resmi,hanya lewat omongan boss ana saja langsung kepada ana,namun begitu dia yang berhak menaikkan semua gaji karyawan.
    2.dalam kembali ana ke indonesia(cuti),3bulan ana kembali lagi bekerja ditempat lama tersebut. dan sebelum berangkat ana tanyakan masalah transportasi yang ana dapatkan,dan ana bilang mungkin hanya sampai istri melahirkan,boss ana bilang tidak apa2 dan akan ditanggung transpot pp.namun pada kenyataan sekarang ana ingin kembali lagi ke Indonesia,hal lama tersebut diatas terulang lagi. Account ana sebelumnya belum ditutp,sedangkan untuk kedatangan 6bulan tsb ana masih punya sisa gaji.namun begitu menjadi minus dengan belum ditutupnya accoun ana yang lama.boss ana tetep kukuh dengan apa yang ditulis oleh accountannya. ana pasrah. namun satu hal yang membuat ana jengkel tranport pulang ana tidak dikasih dan harus beli sendiri..
    mohon solusinya untuk kedua permasalahan diatas ustad,ana bilang sama boss agar tiket dibelikan dahulu dan ketika saya kembali bisa potong dari gaji ana,padahal ana tidak berniat kembali lagi. berdosakah saya.?jazakallah.

    • October 6, 2009 at 4:59 am

      Akhi Abu Naifa, semoga Allah memudahkan urusan anda

      Wa alaikum Salam warohmatullah. Ana sarankan antum untuk membicarakan masalah ini secara baik dengan bos, syarikah, kalau bisa juga antum minta bantuan kepada teman yang sudah lama, banyak pengalaman dan terpercaya, dan jangan lupa banyaklah berdoa kepada Allah untuk memudahkan urusan antum.

  10. Ibnu Adam
    October 5, 2009 at 3:27 pm

    Assallamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…
    Ya Ust. semoga Allah menjaga anda..Ana mau bertanya bagaimana cara menasehati seseorang yang mudah tersinggung dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain kepadanya.
    Jazakallah khoiran.

    • October 6, 2009 at 5:03 am

      Akhi fillahi, Ibnu Adam, semoga Allah memberkati anda
      Wa alaikum Salam warohmatullahi wabarokatuhu
      Kita harus mengerti bahwa watak orang itu berbeda-beda, berusahalah untuk bergaul dan berucap dengan tutur kata yang santun dan lembut, jangan membicarakan hal-hal yang membuatnya terseinggung, dan sampaikan dalil-dalil atau tulisan tentang keutamaan memaafkan orang lain.

  11. ikhsan
    October 5, 2009 at 3:45 pm

    Assalamu’alaikum
    ustadz ana ingin bertanya beberapa hal mengenai zakat
    1: untuk seorang pegawai,misal pada bulan Ramadhan tahun lalu harta sudah nishab(berdasar kurs emas pada saat itu).
    Setelah berlalu satu tahun,untuk menentukan harta yang dimilikki masih mencapai nishab pada bulan Ramadhan tahun ini(telah berlalu 1 tahun) dengan kurs pada bulan Ramadhan tahun lalu atau bulan Ramadhan tahun ini?

    2.(lanjutan dari pertanyaan 1)bila dalam kondisi,pada bulan Ramadhan tahun ini harta masih mencapai nishab pada pekan pertama bulan ramadhan,kemudian akan membayarkan zakat mal tersebut pada akhir2 bulan ramadhan(harga emas lebih tinggi dari harga emas di pekan pertama bulan ramadhan) tetapi setelah dihitung dng kurs emas pada saat akan membayar,harta menjadi dibawah nishab,bagaimanakah menyikapi hal tersebut?

    3.bila dalam rumah tangga,suami dan istri sama2 bekerja,apakah istri berkewajiban membayar zakat atas harta yg dia milikki,hasil dari si istri bekerja?

    jazakallahu khoir

  12. Ruwadi
    October 5, 2009 at 7:43 pm

    Assalamu’alaikum, Ustadz,

    Ana mau tanya, berkenaan dengan status “safar” seseorang sehingga ia boleh men-Jamak sholat fardhu.
    Misal, si fulan asalnya dari Indonesia, kemudian diberi nikmat oleh Allah untuk menuntut ilmu di negeri yang muslimnya minoritas (misal di Eropa). Dalam kehidupan sehari-harinya, tidak mudah bagi si fulan untuk menunaikan ibadah fardhu di jam kerja (utamanya dhuhur).

    Ana pernah dengar sebuah pendapat bahwa dengan keadaan yang demikian (menuntut ilmu di negeri asing), walaupun untuk waktu yang lama (misal 2-3 tahun), si fulan ini tetap dianggap dalam keadaan safar, dan apabila menemui keadaan dimana ia tidak bisa sholat fardhu (misal karena pekerjaan di sekolah nya yang tidak bisa ditinggalkan, dan sholat di tempat umum di negeri tempat studi nya dilarang oleh pemerintah setempat), maka ia boleh menjamak sholat nya.

    Mohon pencerahannya, Ustadz,

    Jazakallahu khair..

    Wassalamu’alaikum,

    • October 21, 2009 at 7:27 pm

      Wa ‘alaikum Salam.
      1. Sebaiknya tidak safar ke negara kafir kecuali apabila keadaan mendesak dan bagi orang yang kuat ilmunya dan imannya.
      2. Batas lama safar diperselisihkan ulama namun pendapat yang kuat bahwa hal itu dikembalikan kepada urf (adat) manusia sekalipun berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
      3. Kalau anda tidak bisa menampakkan syi’ar-syiar Islam di sana bahkan dilarang maka sebaiknya anda pulang ke Indonsia untuk keselamatan agama anda.

  13. October 6, 2009 at 5:15 am

    Akhi Ihsan, semoga Allah menambahkan ilmu bagi anda

    1. Patokan nishob adalah dengan krus Romnadhan tahun ini, bukan tahun lalu ketika mulai nishob.

    2. Pada asalnya, bayarlah zakat ketika sudah masuk waktu haul (pekan pertama) sehingga menggunkan ukuran krus saat itu, namun bila antum mengakhirkan karena suatu alasan syar’i dan bukan untuk lari dari kewajiban maka boleh dan yang menjadi patokan adalah krus ketika akan mengeluarkan zakat, kalau memang ternyata tidak sampai nishob ya berarti tidak wajib zakat.

    3. Bila istri mampu untuk membayar sendiri, maka hendaknya dia membayar sendiri

    .
    Wallahu A’lam.

  14. abu fadhl
    October 6, 2009 at 2:25 pm

    assalamu’alaikum ustadz. ana mau tanya tentang hukum menggunakan pampers untuk bayi? syukron atas jawabannya.

    • October 21, 2009 at 3:11 pm

      Hukumnya boleh karena kaidahnya asal masalah dunia adalah halal.

    • October 21, 2009 at 7:33 pm

      Akhi Abu Fadhl, Wa alaikum Salam. Hukum Pampres bayi boleh karena itu sekedar masalah dunia. Kaidahnya: Asal masalah dunia adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya.

  15. Ummu Hindun
    October 7, 2009 at 10:23 am

    Bismillah, Ustadz terimakasih atas jawabannya. Busana saya saat ini adalah seperti itu ustdz. Kerudung tebal yang tidak menerawang namun hanya 1 lapis dan sampai perut. Namun oleh teman2 multazimah sering dikritik katanya saya belum syar’i. Yang mereka maksud ‘Khimar’ yang sampai dada adalah khimar yang di dalam. Sedangkan diluarnya lagi kita harus pakai kerudung lagi yang panjang nya minimal se pantat, yang mereka sebut itu dengan jilbab. Bagaimana ustadz? apakah itu memang ada 2 pendapat mengenai pemahaman jilbab dan khimar?
    Kalau ustadz sendiri ikut pendapat mana dan memaknai jilbab dan khimar itu seperti apa?

    • October 21, 2009 at 3:16 pm

      Ukhti fillahi Ummu Hindun, ana belum tahu asal pendapat tersebut. Wallahu A’lam, sebaiknya ukhti yang tanyakan kepada teman-teman multazimah tersebut dalil yang mereka katakan tersebut.

  16. Penghuni
    October 7, 2009 at 8:14 pm

    assalamualaykum ustadz,
    ana bekerja di sebuah perusahaan berbentuk PT ( Perseroan Terbatas ) yang sering menenderkan pekerjaannya kepada para kontraktor ( penyedia jasa )atau vendor ( penyedia barang ). Tender dilaksanakan dengan system lelang yaitu perusahaan mengumumkan pekerjaan atau barang yang akan dijual melalui surat kabar.
    Kemudian perusahaan membuka lelang, vendor dan kontraktor pun memasukkan barang/ jasa beserta ongkosnya sekalian. Jika barang dan jasa sesuai dengan apa yang dicari oleh perusahaan kami maka kami meluluskan saringan teknis. Ko
    ntraktor/ vendor yang lolos saringan teknis akan mengajukan penawaran harga ( beberapa vendor mengajukan penawaran bersama-sama ), kemudian kami akan memilih harga dari vendor yang terendah.
    1.Bolehkah transaksi semacam ini menurut Islam ?
    2.bolehkah bekerja pada perusahaan berbentuk PT ? barakallohu Fiik ya Ustadz

    • October 21, 2009 at 3:20 pm

      Untuk saudara penghuni, smg Allah menambah ilmu baginya.
      1. Transakasi tersebut insyallah boleh karena setahu kami itu termasuk model jual beli lelang yang diperbolehkan.
      2. Pada asalnya boleh asalkan tidak ada hal-hal yang melanggar syari’at. Wallahu A’lam.

  17. Bambang
    October 8, 2009 at 1:27 pm

    Asalamualaikum Usatad,

    Ya, Usatad ada hal yang mengganjal bagi saya ustad mengenai menyimpan uang di Bank,
    mengenai hukin menyimpan uang di bank konvensional telah jelas diperbolehkan dengan syarat darurat,

    permasalahanya bagaimana pandangan ustad mengenai hukum syariat berkaitan dengan menyinmpan uang di bank Syariah, yang mana keadaan Bank syairah pada produk-produknya menyelisihi kaidah fiqih dan pembahasan bank syariah inipun masih menjadi polemik,
    mohon nasihatnya jazakallahkahiran katsira.

    • October 21, 2009 at 3:22 pm

      Akhi Bambang, semoga Allah menjaganya, Walaikum Salam. Sepanjang info yang sampai kepada kami bahwa bank syari’ah juga bermuamalah dengan riba. Namun harus diakui bahwa tingkatan bank bertingkat2 kadar riba-nya.

  18. siera
    October 8, 2009 at 2:15 pm

    Assalaamu’alaykum,
    Ustadz, sy termasuk awam dalam ilmu agama. Sy mulai mengikuti ngaji salaf dan mendengarkan kajian online di radiomuslim. Sy ingin tahu mengenai kaitan pengelola websaite http://www.salafy.or.id & yayasan al sofwah. Sy yg masih awam ini tidak paham apa yg mjd perselisihan antara keduanya. Atau intinya sy sdang mencari tau t4 ngaji salafy yang tepat.
    Wassalaamu’alaykum.

    • October 21, 2009 at 3:25 pm

      Untuk ukhti Siera, semoga Allah menambahkan ilmu baginya.
      1. Kami nasehatkan untuk menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dari para ustadz yang terpercaya.
      2. Jangan masuk dalam arena fitnah yang akan menghlangi kita dari ilmu.

  19. Slamet
    October 8, 2009 at 8:43 pm

    Assalamu’alaikum ustadz ana mau usul gmn lo tulisanx agus mustofa dbantah soalnya banyak yg membaca tulisanx.jazakalloh khairan

    • October 21, 2009 at 3:27 pm

      Untuk akhi Slamet, semoga Allah meneguhkannya. Wa alaikum salam.
      Buku-buku Agis Musthofa penuh dengan kesesatan, hendaknya diwaspadai. Sebagiannya sudah dibantah di Majalah kami Al Furqon. Lihatlah.

  20. Hani
    October 10, 2009 at 2:52 pm

    Assalamu’alaikum, ustadz.

    Saya ingin berkonsultasi berkaitan dengan masalah di bawah ini.

    Saya menjual barang di Qatar kepada teman-teman Indonesia yang tinggal di sini dalam harga rupiah (Rp). Awalnya penetapan harga rupiah itu karena saya ingin “main aman” istilahnya emas dibayar emas, perak dibayar perak, juga untuk kemudahan transfer antar bank dalam negeri via internet banking. Ternyata, sebagian pelanggan tetap ingin membayar dlm riyal (QR). Apakah benar pemahaman saya bahwa penukaran kurs mata uang harus dibayar kontan ketika suatu kurs ditetapkan? Bahwa kemudian terjadi fluktuasi QR – Rp setelah itu tidak menjadi masalah? Kalau dianalogikan dengan jual-beli yg saya lakukan, ketika saya dan pelanggan menyepakati pembayaran bisa dilakukan dengan QR dengan kurs tertentu, maka saat itu uang harus berpindah (dibayarkan). Kalau ada tenggat waktu, bisa jadi ada salah satu pihak yang dirugikan karena nilai salah satu uang yang menyusut terhadap yang lainnya (bisa QR-nya, ato Rupiahnya). Kalau perpindahan uang sudah selesai, seperti yang disebutkan di atas, maka perbedaan kurs (karena fluktuasi) diantara keduanya yang terjadi di kemudian hari tidaklah menjadi masalah. Kalo Rupiah-Rupiah… sudah pasti kita tidak perlu mengkonversikan kan? Jadi jika saya tetapkan harga Rp 100, maka pelanggan bayar Rp 100. Kalo dikonversi, bisa jadi saya tetapkan harga Rp 100, lalu pelanggan membayar Rp 120 (pelanggan rugi Rp 20), ato sebaliknya pelanggan bayar Rp 80 (saya rugi Rp 20, belum lagi keuntunganya memang tidak seberapa). Mungkin akan beda, kalo saya sudah menetapkan harga QR sebelumnya (jadi QR dibayar QR).

    Mohon penjelasannya karena saya benar-benar awam dalam hal ini dan memang baru belajar berbisnis. Saya tidak mau tergelincir dalam jual-beli yang tidak halal.

    Terima kasih. Jazakallahu khairan.

    Wassalamu’alaikum.

    • October 21, 2009 at 3:36 pm

      Untuk Akhi Hani, semoga Allah menambahkan ilmu baginya, Wa alaikum Salam. Yang menjadi patokan adalah krus ketika akad, adapun perbedaan harga setelah itu maka tidak masalah karena itu di luar pengetahuan kita. Wallahu A’lam.

  21. ABUL HAKAM AL-ATSARY
    October 10, 2009 at 4:05 pm

    akhy fillah,,,seorang lk2 punya 4istri,kemudian lk2 tersebut menthalaq salah satu dari yg 4,blh kah lk2 tersebut menikahi wanita lain seblm habis masa iddah wanita yg di thalaq???jazaakallah khairo

  22. October 12, 2009 at 11:40 am

    Assalamualaykum Warrahmatullah Wabarakatuh

    Ustadz, ana mohon penjelasan ustadz, keadaan ana sbb:

    Ana bekerja sebagai PNS yang banyak berhubungan dengan Departemen lain sehingga ana sering ke luar kantor (Departemen tsb)… Di departemen tersebut ana sering disuguhi makanan ataupun minuman dimana ana tidak mengetahui darimana biaya untuk menyediakan makanan dan minuman tersebut (dalam hal ini sepengetahuan ana tidak ada alokasi anggaran dari departemen tsb)….Dalam hal ini sebenarnya kode etik di kantor ana melarang untuk menerima makanan dan minuman, meskipun secara lisan atasan2 ana memperbolehkan karena tidak sopan sebagai tamu apabila menolak apa yang disuguhkan tuan rumah dan apabila ana menolak pemberian berupa makanan dan minuman ini seringkali menghambat komunikasi sehingga mempersulit pekerjaan ana di departemen tersebut…. Apakah alasan ini (sebagai tamu menerima jamuan tuan rumah dan kelancaran pekerjaan sedangkan sumber dana yang tidak dapat diyakini kehalalannya) dapat dibenarkan untuk menerima makanan dan minuman tersebut?

    Jazakallah khairan katsir atas jawaban ustadz

    Wassalamualaykum warrahmatullah wabarakatuh

    • October 21, 2009 at 3:48 pm

      Untuk akhi Mardiyanto, semg Allah menjaganya. Wa alaikum Salam. Kalau memang kode etik di kantor antum hal itu dilarang maka seyogyanya antum memathui hal itu, apalagi antum tahu bahwa tdk ada alokasi anggaran dana untuk itu, sebagai gantinya antum bisa membawa makanan atau minuman sendiri. Wallahu A’lam.

  23. emelin
    October 12, 2009 at 5:31 pm

    asswr. [edit dari admin: lebih baik ditulis assalamu’alaikum dengan tidak disingkat] Setelah saya tolabul ilmu di masjid,sy senangnya silaturahmi itu di masjid atau walaupun kita kumpul di rumah ada pengajian, walaupun sy tetap bersosialisasi dgn tetangga baik menengok yang sakit, meninggal,dan bergaul seperti biasa normal tidak ada perselisihan,damai-damai saja, cuma ada satu ganjalan ada yang suka mengatur seorang ibu bukan ketua rt,rw, dia non muslim dan slalu memaksa harus ikut arisan, yang pasti nanti di dalam arisan itu tidak efektif kata ibu yang ikutan juga menyesal tapi di paksa terus, dan memamg saya kalo ikut arisan dilarang oleh suami,terus juga akan membebani harus menyediakan konsumsi, cape beres2nya, apakah saya berdosa menolak arisan tsb? selama ini saya ikut kata hati, dan ikut perintah suami tidak bolah ikut, dana terbatas, memang banyak juga ibu2 lain yang tidak ikut arisan, bagaimana menurut pandangan pak ustadz? bila arisan yang dipaksakan? sementara kita takut orang tsb marah? wasalm. [lebih baik ditulis wassalamu’alaikum-admin]

    • October 21, 2009 at 3:51 pm

      Untuk ibu emelin, semoga Allah menjaganya. Walaikum Salam. Arisan hukumnya boleh dan taat suami dalam hal yang bukan maksiat hukumnya wajib, maka taatlah perintah suami anda dengan tetap terus berbuat baik sesama warga, karena berbuat baik dengan mereka tidak harus dengan arisan, masih banyak cara lainnya.

  24. fathyan
    October 12, 2009 at 8:55 pm

    Assalamualaikum
    Ustadz ana mau tanya..Apakah membayar fidyah bisa dibayarnya setelah berlalu bulan romadhon?
    Jazakallohu khoiron

  25. ivi
    October 13, 2009 at 5:01 pm

    assalamualaykum ustadz. ana sedang proses hijrah ke jalan yang benar. anna sekarang sedang mencari guru pembimbing spiritual. bagaimanakah ciri-ciri guru yang baik ustadz… jazakallah ustadz atas bimbingannya.. dan doakan anna agar mendapatkan guru yang baik..

    • October 21, 2009 at 6:31 pm

      Wa ‘alaikum Salam. Guru yang baik adalah guru yang memiliki berpegang teguh demngan alQur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat, beaqidah lurus, mengangungkan sunnah Nabi, berilmu dan beribdah serta berakhlak mulia.

  26. Hasyim maulana
    October 13, 2009 at 10:32 pm

    Barakallahulaka wa ahlika wa malika.
    Ustadz saya mau tanya,dulu ketika belum mengenal manhaj saya memiliki hobi membaca majalah sepak bola.Dan sekarang alhamdulillah setelah mengenal manhaj ini,saya beralih dengan menghafal Al Qur’an,hadits dan kalam salaf.Banyak manfaat yang saya dapati,dan telah banyak pula yang saya hafal,segala puji bagi Allah atas nikmat tersebut.Pertanyaannya,apakah di bolehkan bagi saya atas hal demikian ? Menurut saya,ketika membaca atau taklim kepada para asatidz harus ada yang menghasilkan faidah ilmu,tidak pulang dengan kesia-siaan.Jazakalloh khoir_

    • October 21, 2009 at 6:33 pm

      Akahi Hasyim, smg Allah menambh semangat anda. Apa yang anda lakukan sudah bagus, terus majulah dan mintalah bimbingan para ustadz untuk maju lagi. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

  27. Ummu 'Abdillah
    October 14, 2009 at 5:34 am

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
    ustadz, smg engkau serta asatidz di Indonesia khususnya, snantiasa dbrikan keistiqomahn dlm mnapaki n mdakwahkn dkwh tauhid diatas manhaj salaf alhaq…
    Ustadz, apakah hukum istri yg mminta khuluq sama dgn istri yg dtalak? Dlm sisi2 manakah pbedaan n psamaannya? Ana mohon penjelasannya, karna kami belum paham n sangat mmbutuhkn pjelasn dlm pkara ini…

    Jazakumullohu khoirn katsir..

  28. mu'adz
    October 14, 2009 at 2:08 pm

    Asalamu’alakum. Ustadz apa hukumnya menyimpan foto-foto manusia di dalam facebook? Dan bagaimana ketika ada sebagian ikhwan kita yg menyimpan nama2 dan foto2 wanita bukan mahram yg terkadang tdk berjilbab di dalam facebook? Dan ketika diingatkan dia beralasan karena foto2 wanita itu adalah teman2 sekolahnya di SMA dulu, jadi sekalian buat berdakwah kepada mereka lewat facebook katanya. Misalnya dg mengirim artikel dsb. Apakah alasan ini diterima oleh syari’at ya ustadz? jazakumullohu khoirn katsirn ats jawabanya.

    • October 21, 2009 at 6:36 pm

      Wa ‘alaikum Salam. Foto hukumnya tidak boleh kecuali apabila dharurat, sedangkan foto di faecbook bukanlah dahrurat bisa diganti yang lain, marilah kita syukuri nikmat Allah ini dengan tidak menggunakannya dengan kemaksiatan.

  29. M. Novri Hendri S
    October 15, 2009 at 5:20 pm

    Assalaamu’alaikum…
    Ustadz, mohon jawabannya…
    Apa hukumnya mendengarkan nasyid islami KHUSUS nya yang di bawakan oleh “Misyari Rasyid”….?apakah dibolehkan…..?
    Ada jadi agak bingung, yang pernah ana dengar haram mendengarkan nasyid yang dibawakan oleh laki-laki, tapi pernaha juga ada beberapa ihkwan salaf yang berbincang-bincang yang kesimpulannya boleh mendengarkan nasyid Musyari Rasyid tersebut….

    Mohon jawabannya ustadz…..

    Jazakallahu khoiran…

    Wassalaamu’alaikum…..

    • October 21, 2009 at 6:38 pm

      Wa ‘alaikum salam. Ana nasehatkan kepada semua untuk banyak membaca Al-Qur’an, hadits dan kata-kata hikmah ulama. Adapun nasyid-nasyid sebaiknya ditinggalkan karena kebanyakan lebih mendekati kepada nyanyian.

  30. October 16, 2009 at 6:21 am

    Bismillaah. ustadz, kami dari salafi-palembang sumatera selatan mohon bantuan jawaban utk soal penanya:

    “assalamu’alaikum wr.wb
    saya juga mau minta pendapat.

    hal ny hampir sama dengan penanya yang ada di artikel
    cuma bedanya, objeknya teman saya

    si Fulan ini belajar ngaji dengan saya, umurnya 1 tahun d bawah saya
    tujuan ia ingin keluar dari jalan yang gelap dan keterpurukan hidupnya sekarang

    berangsur-angsur mulai membaik
    tapi ia begitu gampangnya tergoda dengan secuil kesenangan yang sifatnya sangat sementara
    sehingga si fulan sering kali mengelu atas kesalahannya sendiri

    berbagai nasihat sudah diberi, dari motivasi sampai ancaman
    saya sudah mendakwahi dia sudah sejak 1 bulan sebelum ramadhan kemarin

    tapi si fulan ini orang ny sangat pesimis, klo d beri nasihat masuk kuping kiri-keluar kuping kanan, kadang ia bengong, dan “cengangas-cengenges”
    semangat besoknya
    tp ketika “tersandung batu kecil” ia mulai meninggalkan ngajinya dengan berbagai alasan yang ia buat
    dan aneh ny ia tersandung di t4 yg sama hampir bbrp kali

    nah, hal yg plg m’buat amarah saya meledak, ketika ia minta berhenti mengaji dengan alasan “sudah kotor”. hal ini sudah hampir 5x

    saya sudah menjalankan tahapan peringatan, dari tangan mulut sampai yang terakhir, do’a. saya merasa iman saya ini sangat lemah, karena tidak bisa mengajak ia kepada kebenaran

    kmrn sempat saya amanahkan kpd Y, tmn saya, untuk menggantikan peran saya sementara, dg alasan untuk meredakan emosi. kurang dr 1 minggu kmdian Y blg ngga sanggup seraya mnjukkan rs sdkt kecewa dan mnhn rasa ingin “main tangan”. saya tny, kt Y si Fulan ngga ngaji tnpa alsan.

    sy temui si fulan. dia menghindar seperti biasa.
    akhr ny d ujung dialog yg ckp pnjng & sdkt panas
    saya memutuskan untuk stop mengajari dia lagi, dengan alasan batasan peringatan yg saya berikan sudah melampaui

    di tambah lagi, diakhirny ia mengembalikan Iqro yg kmdian Iqro it jatuh ke parit

    apakah tindakan saya ini salah?
    apakah yg harus saya lakukan berikutnya? ”

    http://www.facebook.com/home.php#/pages/Palembang/Salafi-Palembang-Sumatera-Selatan/151670616847?ref=share

    • October 21, 2009 at 6:41 pm

      Bersabarlah dalam menasehati teman anda dan banyaklah berdoa kepada Alah untuk dibuka hatinya.

  31. muhammad hammam
    October 17, 2009 at 10:43 pm

    bismillah, assalamu’alaykum
    ana mau tanya, hal-hal apa saja yang dilakukan ketika waktu tunggu antara khitbah dan akad nikah?

    • October 21, 2009 at 7:14 pm

      Wa ‘alaikum salam. Yang perlu disiapkan adalah ilmu yang bermanfaat untuk membimbing istri dan mendidik anak, serta perekonomian untuk menafkahi keluarga. Dan perlu diingat bahwa calon istri selama belum akad berarti belum mahram.

  32. ibnu abi irfan
    October 18, 2009 at 10:46 am

    Assalamu’alaikum ustadz. ana mau tanya, apa saja syarat sebuah hadits dihukumi shohih dan hasan? dan bagaimana keadaan rowi yang boleh diterima riwayatnya?

    syukron…

    • October 21, 2009 at 7:17 pm

      Wa ‘alaikum salam. Hadits disebut shohih apabila:
      1. Bersambung sanadnya dan tidak terputus
      2. Para perawinya semuanya terpercaya
      3. Tidak syadz (ganjil)
      4. Tidak ada illat (cacat tersembunyi).

  33. zulfa budianto
    October 19, 2009 at 9:24 am

    Assalamualaykum Warrahmatullah Wabarakatuh

    Pak ustad..Ana mau bertanya kepada ustad…

    Apa hukum pria muslim menikah dengan wanita non muslim, tapi akad nikahnya di gereja…

    apakah hukumnya ?

    Mohon jawabannya ustadz…..

    Jazakallahu khoiran…

    Wassalaamu’alaikum…..

    • October 21, 2009 at 7:22 pm

      Wa ‘alaikum Salam warohmatullahi wabarol\katuhu.
      Hendaknya kita semua mencari wanita yang shlihah dan baik agamanya, tidak boleh menikah dengan wanita musyrikah dengan kesepakatan ulama, kecuali wanita ahli kitab maka boleh dengan syarat-syarat yang ketat, hanya saja sebaiknya tetap mencari wanita muslimah yang baik agamanya.

  34. Ahmad
    October 28, 2009 at 11:38 am

    Assalamu’alaikum Ustadz

    Semoga saya menulis ini dalam rangka mencari keridoan ALLOH SWT.

    Saya seorang tolibul ‘ilmi mempunyai 2 orang adik perempuan yang pacaran dan kadang pergi berduaan tanpa pernah ada yang melarang kecuali hanya saya, itu pun baru sebatas lisan dan belum berhasil. Tetangga-tetangga saya baik pemuda dan pemudi mayoritas juga pacaran dan sering pergi berduaan naik motor. Di kampung tidak ada yang malu melakukan hal ini. Sementara para orangtua mengijinkan hal-hal ini. Saya jadi merasa terkucil di kampung karena setiap hari saya menyaksikan pemuda-pemudi bukan muhrim lalu lalang berboncengan di depan rumah saya dan di depan masjid biasa saya sholat, walaupun saya tetap yakin ALLOH SWT selalu membuat saya tetap merasa dalam barisan jamaah kaum mukmin.

    Di sisi yang lain, para orangtua sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan kampung seperti pada umumnya. Selain itu ada acara rutin orangtua yang saya tidak setuju yaitu mendatangi peringatan 7 hari, 40 hari, 1 tahun dst meninggalnya salah seorang warga kampung.

    Langkah-langkah apa yang harus saya lakukan di tengah kesendirian saya di kampung ini ustadz? Apakah dakwah tauhid dulu dengan menomorduakan atau sementara tidak menyinggung-nyinggung maksiat sama sekali. Atau berbarengan 2 dakwah tersebut. Media apa saja yang harus saya manfaatkan. Atau malah saya konsentrasi mencari kader anak-anak kecil dan mendidik mereka dan melupakan saja mendakwahi para pemuda-pemudi dan orang tua yang semakin individualis misalnya sibuk dengan musik-musik dan sms-sms di HP ketika diajak bicara.

    Jazakumullah khairan atas jawaban dari Ustadz

  35. fauzi hidayatullah
    October 29, 2009 at 1:03 pm

    Assalaamu’alaikum
    Ustadz saya mau Tanya.
    Saya bermimpi yang dimana dalam mimpi ini ada saya, ibu, kakak tiri (saya memanggilnya dengan sebutan mamania) yang bertemu dengan almarhum ayah saya.
    Mimpinya adalah
    Saya datang dari arah masjid tiba-tiba almarhum ayah saya ada didepan rumah sedang duduk dan dimulutnya ada tusuk gigi. Lalu saya berpikir, ini hanya perasaan saya aja. Lalu saya pergi ke dapur tiba-tiba ayah saya sedang mengambil nasi dan ketika itu ibu saya sedang mencuci pakaian dan saya bicara pada ibu saya,” ma ada papa” lalu ibu saya hanya diam. Setiap saya ingin bicara dengan almarhum ayah saya, dada saya terasa sesak jadi susah untuk bicara. Akhirnya saya bisa bicara juga,”papa enak disana” lalu ayah menjawab” enak” lalu saya bertanya lagi,”do’a aku nyampai enggak pa? ayahku menjawab;”sampai.” Saya keluar menghampiri kakak saya,”mamania ada papa” kakak tiri saya menjawab”mana?” saya jawab lagi “itu (sambil menunjuk kedepan jalan)!!!” lalu ayah saya menghilang,
    Apa nasehat ustadz untuk saya??

    mohon kalau bisa dibalas ke e-mail saya
    hidayatullah.fauzi@yahoo.com
    syukron

  36. abu ihsan
    October 30, 2009 at 4:04 pm

    Assalaamu’alaikum Warahmatulloh Wabarokatuh.
    Ustadz ana mau tanya hadits tentang bahwa orang tua Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi
    Wa Sallam ,itu masuk neraka mohon jawabannya Ustadz.
    Jazakallohu Khoiron.

  1. October 3, 2009 at 8:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: