Home > Tanya Jawab > Menyoal Gaji Pegawai Negeri (PNS)

Menyoal Gaji Pegawai Negeri (PNS)

Berikut ini, ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan ke Majalah Al-Furqon, yang kemudian dijawab oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi.

  • Teks Pertanyaan:

fitnah hartaAs-Salamu ‘alaikum

Saya ingin bertanya kepada redaksi Al Furqon sebagai berikut:

1. Bagaimana hukum bekerja sebagai pegawai negeri, karena sumber dana pemerintah selain dari dana halal juga dari dana yang tidak jelas seperti pariwisata, pajak? Apakah ada perincian lagi, kalau instasi pajak atau pariwisata tidak boleh tapi instasi lain boleh? Apakah kita termasuk wala’ (loyalitas –red) kepada taghut jika kita bekerja di sana?

2. Apakah ikhtilat (campur baur lawan jenis –red) di tempat kerja dapat dikatakan darurat karena hampir di semua tempat kita sulit menghindarinya?

Abu xxxxx waru baru@xxxx.com

.

Jawab:

Wa’alaikumus Salam wa Rahmatullahi wa Barakatuhu.

1. Dalam soal pertama ini ada tiga permasalahan penting yang membutuhkan keterangan yang jelas, apalagi pada zaman sekarang, dimana mayoritas manusia begitu ambisi mengejar dunia dan acuh terhadap hukum-hukum agama sehingga tidak memperdulikan lagi apakah pekerjaan yang dia geluti selama ini diridhai oleh Allah ataukah tidak. Kita memohon kepada Allah bimbingan dan petunjuk untuk menjawab masalah penting ini dengan jawaban yang diridhaiNya dan memberikan rizki yang halal kepada kita serta menjauhkan kita semua dari rizki yang haram. Amiin.

A. Hukum Bekerja Sebagai Pegawai Negeri

Sebelum kita memasuki inti permasalahan, ada baiknya kita memahami beberapa point penting berikut:

  • Syari’at Islam menganjurkan kepada kita untuk bekerja dan memberikan kebebasan kepada kita dalam memilih pekerjaan apa saja selagi pekerjaan tersebut halal.

Demikian ditegaskan oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 5/425, Al-Muru’ah wa Khowarimuha 205, Syaikh Masyhur bin Hasan Salman).

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ أَنَّ النَّبِيَّ سُئِلَ : أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ

Dari Rifa’ah bin Rafi’ bahwasanya Nabi pernah ditanya: Pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab: “Pekerjaan seorang dengan tangannya sendiri dan setiap perdagangan yang baik”. (Shahih li ghairihi. Riwayat Al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar 2/83/1257)

عَنِ الْمِقْدَامِ عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ : مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ, وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Dari Miqdam dari Nabi bahwa beliau bersabda: Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil tangannya sendiri, dan adalah Nabiyullah Dawud makan dari hasil pekerjaannya sendiri”. (HR. Bukhari 2076)

  • Dan juga berdasarkan kaidah berharga “Asal dalam muamalat adalah boleh dan halal”.

Oleh karenanya, apabila kita membaca sirah para salaf, niscaya akan kita dapati bahwa mereka berbeda-beda pekerjaannya, ada yang menjadi pedagang, petani, tukang kayu, tukang besi, tukang sepatu, penjahit baju, pembuat roti, pengembala, buruh dan seabrek pekerjaan lainnya.

  • Ketahuilah bahwa Syari’at membagi pekerjaan menjadi dua macam:
  1. Pekerjaan haram, seperti bekerja sebagai penyanyi, dukun, penjual khamr, pekerja di bank riba, pelacur, pencuri dan sejenisnya dari pekerjaan-pekerjaan yang dilarang oleh syari’at Islam.
  2. Pekerjaan mubah, contohnya banyak sekali, hanya saja sebagian ulama meneyebutkan bahwa “Pokok pekerjaan itu ada tiga: Tani, dagang, industri”. (Al-Hawi Al-Kabir 19/180, Al-Mardawi).

Syaikh Masyhur bin Hasan menambahkan: “Dan diantara pokok pekerjaan pada zaman kita sekarang -selain tiga di atas- adalah bekerja sebagai “pegawai” dengan aneka macamnya. Hanya saja terkadang sebagiannya bercampur dengan hal-hal yang haram atau makruh tergantung keadaan jenis pekerjaan itu sendiri. Para pekerjanya secara umum banyak mengeluh dari kurangnya barakah. Di samping itu, pekerjaan ini juga menimbulkan dampak negatif bagi mayoritas pegawai, diantaranya:

  1. Kurangnya tawakkal kepada Allah dalam rezeki
  2. Banyaknya korupsi dan suap
  3. Malas dalam bekerja dan kurang perhatian
  4. Sangat ambisi dengan gajian akhir bulan
  5. Banyaknya sifat nifaq di depan atasan”. (Lihat Al-Muru’ah wa Khowarimuha hal. 193-206).

  • Bekerja sebagai pegawai negeri -sebagaimana pekerjaan secara umum- diperinci menjadi dua:
  1. Apabila pekerjaan tersebut tidak ada kaitannya dengan perkara-perkara haram, maka hukumnya boleh, bahkan bisa jadi dianjurkan.
  2. Apabila pekerjaan tersebut berhubungan dengan perkara-perkara haram seperti pajak, pariwisata haram, bank ribawi dan sejenisnya, maka hukum kerjanya juga haram, karena itu termasuk tolong-menolong dalam kejelekan yang jelas diharamkan dalam Islam.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertaqawalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya . (QS. Al-Maidah: 2)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ : هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir berkata: Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberinya, sekretarisnya dan dua saksinya. Dan beliau bersabda: Semuanya sama. (HR. Muslim: 1598)

B. Hukum Gaji Dari Pemerintah

Gaji pegawai negeri tergantung kepada pekerjaan itu sendiri:

1. Apabila dari pekerjaan yang haram, maka gajinya juga haram. Nabi bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu, maka Dia mengharamkan pula hasil (upahnya)”. (HR. Ahmad 1/247, 293 dan Abu Dawud 3488 dan dishahihkan Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma’ad 5/661)

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدِ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari bahwasanya Rasulullah melarang dari uang hasil jual anjing, mahar (upah) pelacur dan upah dukun. (HR. Bukhari 2237 dan Muslim 3985)

2. Apabila gajinya dari pekerjaan yang halal, maka gajinya juga halal, sekalipun sumber dana pemerintah yang digunakan sebagai gaji tersebut bercampur antara halal dengan haram, selagi dia tidak mengetahui bahwa uang gaji yang dia terima jelas-jelas haram.

Lebih jelasnya, masalah ini dibangun di atas beberapa kaidah:

  • Asal segala sesuatu adalah halal

Kaidah agung ini berdasarkan dalil-dalil yang banyak sekali dari Al-Qur’an dan sunnah. Sumber dana pemerintah yang bercampur antara halal, haram dan syubhat, selagi tidak diketahui secara pasti bahwa uang yang dia terima adalah uang haram maka termasuk dalam kaidah ini. Patokan masalah ini tergantung pada keyakinan hati, bukan pada kenyataan perkara, artinya jika dia mengambil uang gaji tersebut yang kenyataannya adalah tidak halal tetapi dia tidak mengetahuinya maka hukumnya boleh.

Para ulama ahli fiqih menyebutkan bahwa harta yang di tangan para pencuri, atau titipan dan pergadaian yang tidak diketahui pemiliknya apabila tidak mungkin untuk dikembalikan kepada pemiliknya maka wajib dishodaqohkan atau diberikan ke baitul mal, dan harta tersebut bagi orang yang diberi shodaqoh adalah halal, padahal telah dimaklumi bersama bahwa harta tersebut adalah jelas-jelas milik orang lain yang tidak bisa dikembalikan kepada pemiliknya. Jika harta tersebut saja halal, maka harta yang tidak diketahui keadaannya dan tidak dipastikan kejelasannya tentu saja lebih jelas kehalalannya.

  • Agama Islam dibangun di atas kemaslahatan dan membendung kerusakan

Dana pemerintah tersebut pasti diberikan, mungkin diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya, atau kepada orang yang berhak menerimanya, dan tentu saja yang kedua ini lebih berhak menerimanya. Seandainya ahli agama yang berhak menerimanya tidak mau menerima uang dari dana pemerintah tersebut lalu diambil oleh orang yang tidak berhak menerimanya, maka akan terjadi kerusakan yang banyak sekali dan akan terhambat kemaslahatan yang banyak, padahal syari’at Islam dibangun di atas kemaslahatan dan menghilangkan kerusakan.(Lihat Al-Ajwibah As-Sa’diyyah ‘anil Masaail Al-Kuwaitiyyah hal. 163-164 oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, tahqiq Dr. Walid bin Abdillah).

  • Rasulullah menerima hadiah dan memenuhi undangan makanan dari Yahudi, padahal kita tahu semua bahwa Yahudi memakan uang dengan bathil dari riba dan lain sebagainya. Lantas bagaimana kiranya hukum menerimanya dari seorang muslim?! Jelas lebih halal.


C. Apakah Bekerja Di Pemerintahan Termasuk Wala’ (loyalitas) Kepada Taghut?

Ada beberapa point penting yang harus kita fahami dalam masalah ini:

  • Masalah berhukum dengan selain Allah termasuk masalah basar yang menimpa para pemerintah pada zaman kita sekarang, maka hendaknya kita tidak tergesa-gesa dalam menghukumi mereka dengan hukum yang tidak berhak bagi mereka sehingga masalahnya benar-benar jelas bagi kita, karena ini sangat berbahaya sekali. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki para penguasa kaum muslimin. (Syarh Tsalatsah Utsul hal. 159 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin).

  • Menvonis para pemerintah yang tidak berhukum dengan selain Allah dengan taghut berarti itu mengkafirkan mereka, ini jelas keliru karena madzhab salaf memerinci masalah ini; apabila dia berhukum dengan selain hukum Allah dari undang-undang manusia dan hukum-hukum jahiliyyah, dengan mengingkari wajibnya berhukum dengan hukum Allah, atau berpendapat bahwa hukum Allah tidak relevan pada zaman sekarang, atau berpendapat sama saja berhukum dengan hukum Allah  atau selainnya maka dia kafir, tetapi apabila dia berhukum dengan mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan tidak mengingkarinya, tetapi karena ambisi terhadap dunia, maka dia adalah fasiq. (Lihat kembali makalah “Hukum Islam Vs Hukum Jahiliyyah” dalam Al Furqon edisi 11/Th.III, “Fitnah Takfir” edisi 10/Th. III, “Berhukum Dengan Hukum Allah” edisi 8/Th. IV).

  • Anggaplah kalau mereka memang melakukan kekufuran nyata, bukankah menvonisnya dengan kekafiran memiliki kaidah-kaidah yang tidak ringan?! Harus terpenuhi syarat dan hilang segala penghalangnya?! Sudahkah kita menegakkan hujjah kepada mereka?! Bukankah mayoritas mereka melakukannya karena kebodohan dan taklid buta?!

  • Anggaplah  juga bahwa pemerintah adalah taghut dan kafir, tetap tidak bisa kita pukul rata bahwa  setiap para pegawai pemerintahnya adalah kafir. Sungguh ini adalah pemikiran menyimpang Khawarij yang sesat, karena haramnya wala’ (loyalitas) kepada orang-orang kafir bukan berarti haramnya muamalah dengan mereka dalam hal-hal yang mubah (boleh). Itu kalau kita anggap bahwa pemerintah kafir, lantas bagaimana kiranya kalau pemerintah masih mendirikan shalat?! (Lihat tulisan “Pembaikotan Produk Orang Kafir” edisi 12/Th. IV)

Akhirnya, kami mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -semoga Allah menjaganya-:

“Saya tidak percaya kalau ada seorang muslim yang wala’ (loyal) terhadap orang-orang kafir, tetapi kalian mengartikan wala’ (loyal) bukan pada tempatnya. Kalaulah memang ada yang loyal kepada orang kafir, maka dia adalah orang yang jahil atau non muslim. Adapun orang muslim maka dia tidak mungkin loyal kepada orang kafir, tetapi ada beberapa perkara yang kalian menganggapnya loyal padahal tidak, seperti jual beli dengan orang kafir atau memberi hadiah orang kafir…”. (Al-Fatawa Syar’iyyah fil Qodhoya ‘Ashriyyah hal. 95, kumpulan Muhammad Fahd Al-Hushayyin).

2. Bekerja di tempat yang ikhtilath (campur baur antara lawan jenis) tidak keluar dari dua keadaan:

  • Pertama: Apabila di sana ada tempat, ruangan atau kantor khusus bagi kaum laki-laki sendiri, dan bagi kaum wanita sendiri, maka hukumnya boleh.
  • Kedua: Apabila dalam satu tempat, ruangan atau kantor bercampur antara laki-laki dan perempuan, maka tidak boleh, sebab hal itu adalah pintu fitnah dan kerusakan.

Nabi telah memperingatkan kepada umatnya dari fitnah kaum wanita dalam sabdanya

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah saya tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum pria daripada fitnah wanita”. (HR. Bukhari 5096 Muslim 6880)

Sampai-sampai dalam tempat ibadah sekalipun, Nabi menganjurkan adanya jarak jauh antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana sabdanya:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf (barisan shalat) kaum wanita adalah yang paling akhir dan sejelek-jeleknya adalah yang yang paling depan”. (HR. Muslim 440)

Nabi mengatakan sejelak-jelaknya adalah barisan yang terdepan disebabkan lebih dekat dengan barisan kaum lelaki. Demikian pula sebaik-baiknya adalah yang belakang dikarenakan lebih jauh dari kaum lelaki.Hadits ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwa syari’at Islam sangat menekankan adanya jarak antara kaum laki-laki dengan wanita. Dan barangsiapa memperhatikan kejadian-kejadian yang terjadi pada umat, niscaya akan jelas baginya bahwa dalam ikhtilath antara lawan jenis merupakan penitu kerusakan dan fitnah hingga sekarang”. (Lihat Fatawa Nur Ala Darb hal. 82-83 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga berkata:

“Adapun ikhtilath antara kaum lelaki dan wanita di tempat kerja atau perkantoran padahal mereka adalah kaum muslimin, maka hukumnya adalah haram dan wajib bagi orang yang memiliki wewenang di tempat tersebut untuk memisahkan tempa/ruangan antara kaum lelaki dan wanita, sebab dalam ikhtilat terdapat kerusakan yang tidak samar bagi seorangpun”. (Fatawa Haiah Kibar Ulama 2/613, Fatawa Ulama Baladi Haram hal. 532).

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang bermanfaat dan meneguhkan kita di atas agamaNya. Amiin.

Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

https://abiubaidah.wordpress.com

  1. kurnia
    October 3, 2009 at 1:31 am

    subhanallah, jazakallahu khoiron katsir tadz
    penjelasannya menjawab pertanyaan saya selama ini
    kebetulan ana CPNS saat ini. Banyak hal yang kemudian
    mengganggu pikiran ana, setelah tahu fenomena yang terjadi
    di dunia kerja. soal penerimaan uang yang kadang ada permainan
    di sana dan juga soal bercampurnya pegawai lelaki dan perempuan.
    Saat ini memang sudah niatan untuk minta pensiun dini, jika kelak
    Allah memberikan jalan untuk punya usaha sendiri. Insya Allah ana
    targetkan di umur 40, sedang umur ana sekarang 24.

    Kemudian, jika saat ini ana belum bisa keluar. Apa yang harus ana
    lakukan. Terutama soal uang-uang proyek yang kadang banyak permain
    di dalamnya. Walau sebenarnya, lebih ke arah permainan pengajuan
    dana yang kadang tidak sama dengan penerimaan yang kita terima.
    Istilah dalam PNS adalah SPJ (Surat Pertanggung Jawaban). Juga
    beberapa intensif yang menggunakan metode-metode SPJ tsb.

    Mohon diberikan penjelasan. Sukron.

    • October 3, 2009 at 11:47 am

      Untuk akhi fillahi, Kurnia, Semoga Allah menjaga dan memberkati anda

      Kalau pekerjaan antum sekarang adalah halal dan bukan yang haram, tidak mengapa antum tetap kerja di sana sampai menunggu pekerjaan yang lebih bersih lagi. Wallahu A’lam.

  2. ziafirnanda
    October 3, 2009 at 3:23 am

    Afwan Ustadz, bagaimana hubungannya dengan sebuah riwayat tentang shahabat Abu Bakar yang mencoba memuntahkan kembali susu yang diminum setelah mengetahui bahwa susu tersebut diperoleh dengan cara yang haram? Bukankah itu menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak menerima pemberian orang lain yang berasal dari sesuatu yang haram?

    • October 3, 2009 at 11:50 am

      Untuk akhi fillahi, Ziafirnanda, semoga Allah memberkati anda

      1. Riwayat sahabat Abu Bakar tersebut hanya menunjukkan waro’ (sikap hati-hati) beliau.

      2. Riwayat tersebut dari harta hasil haram, sedangkan gaji pegawai dari yang halal sekalipun bercampur dengan haram, jadi tidak bisa disamakan. Wallahu A’lam.

  3. kaluako
    October 3, 2009 at 6:57 am

    sekarang masalahnya, yg tanya gitu pns bukan? kalo iya, tanya diri sendiri, tenang ga terima gaji? kalo ga tenang, keluar ajah. kalo keluar, bisa ngasih makan anak bini ngga? penjelasan mo berapa panjang juga musti dikaitkan ama realita kan?

    emang kalo kerja swasta pasti digaji halal? sapa yg yakin kalo bos bosnya, para pengambil keputusan, menjalankan bisnis halal, bersih, prosedural, tidak mendzalimi pihak lain…

    mo usaha sendiri? emang yakin kalo usaha sendiri bebas 100% dari hal2 yang haram?

    maka itu Allah menyediakan zakat, infaq, sadakah, untuk membersihkan harta.

    kurnia: “Saat ini memang sudah niatan untuk minta pensiun dini, jika kelak
    Allah memberikan jalan untuk punya usaha sendiri. Insya Allah ana
    targetkan di umur 40, sedang umur ana sekarang 24.”

    hahahahahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaa….jika kelak Allah memberikan jalan untuk usaha sendiri? syarat itu berat mas! hehe…. “…Allah tidak akan menolong kaum kecuali kaum itu berusaha sendiri…” udah jelas??
    ana targetkan umur 40, sekarang umur 24. emang rentang umur itu pendek? emang yakin yg diucap sekarang ngga berubah?? trus sepanjang rentang umur itu, berapa kilo ‘gaji ngga halal’ udah dikumpulin? kalo emang ragu, KELUAR DARI SEKARANG AJA!!

    • khamim
      October 3, 2009 at 10:05 am

      berhati-hatilah.

  4. khamim
    October 3, 2009 at 10:02 am

    ini bagus kok,.,.,.sya meminta kepada Alloh untuk menambah kpd sya ilmu yang bermanfa’aat

  5. RANI
    October 3, 2009 at 1:20 pm

    Bismillah, kepada kurnia. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan melindungi anda. Semoga, anda tidak termasuk orang2 yang merugi di hadapan Allah. Wallahu’alam. Jika memang ada niatan, dibarengi jg dengan ikhtiar dan tawakkal pasti Allah akan membantu hambanya. Namun keluar dari pegawai negeri memang bukan sesuatu yang tidak mungkin. Karna ibu saya, hanya menjadi pegawai negri selama 4 tahun lebih sedikit. Jadi mungkin pensiun dini sekali ketika beliau berumur 26 tahun. Istiqomah ya.. ^.^

  6. Muhammad Tatang syarifudin
    October 3, 2009 at 3:25 pm

    Assalamua’laikum Warohmatullohiwabarokatuh
    Barokallohufik
    Semoga Alloh menjaga ustadz dan keluarga.

    InsyaAlloh setelah ana membaca artikel ustadz bisa menambah ilmu kepada ana.
    Alhadulillah ana seorang Pns.. dan InsyaAlloh mudah2an apa yg di hasilkan mudah2an diridhai o/ Alloh Swt.
    Ya mudah2an kita menjadi manusia yg berpikiran bijak. sehingga jangan ada pikiran jelek terhadap para pegawai PNs terhadap penhasilan mereka. Adapun jika melihat ada sesuatu yg kurang berkenan mohon di lihat itu sebagai oknum saja.InsyaAlloh masih byk yg baik dan bisa menjadi contoh kepada yg lainnya.Ahlussunnah harus selalu menempatkan sesuatu pada tempatnya mudah2an artikel2 ustadz berikutnya akan menjadi penyeimbang dan menjadi obat penawar yg baik.
    Seandainya kita anggap penghasilan PNS itu tidak halal ?
    Siapakah yg harus memberikan contoh dan mengembalikan kepada jalan yg di ridhoi Alloh Swt. InsyaAlloh aturan yg di buat pemerintah kita sudah bagus dan klo memang yg kita dapat tidak berkenan di hati di tolak saja.Yang jadi masalh kenapa dulu bercita2 jadi Pns ??…yg pasti halal maupun Haram akan kita dapati di setiap tempata. untuk itu fungsi kita terus mencari ilmu yg haq.

  7. abu abdullah
    October 5, 2009 at 10:13 am

    Assalamualaikum ustadz…
    Mengenai pajak saya ingin memperjelas ustadz…..setau saya dalil terkuat untuk mengharamkan pajak adalah hadits nabi tentang shahibul maks yang dosanya seperti dosa pezina (dalam shahih muslim kalo tidak salah)…Yang ingin saya tanya itu apa memang arti shahibul maks itu pegawai pajak pemerintah??? Bukan orang yang memungut pajak dari orang lain trus dipake untuk kepentingan dia sendiri seperti preman yang mengutip uang di pasar??

    Kalo saya liat tentang pajak di Indonesia, pajak dikutip memang untuk dikembalikan ke rakyatnya hanya saja dalam bentuk lain,seperti pembangunan jalan, sekolah, rumah sakit,dll. Dalam APBN negara kita juga penerimaan pajak menduduki sumber penerimaan tertinggi sampai sekitar 70 persen dari penerimaan Indonesia dari pajak..Jadi memang saat ini Indonesia tak memiliki penerimaan lain dalam jumlah besar kecuali dari pajak..
    Di kitab ringkasan Al I’thisamnya Imam Syathibi juga tentang perbedaan maslahah mursalah dengan bid’ah, imam syathibi membolehkan penguasa untuk memungut uang dari orang kaya jika negara tidak memiliki sumber penerimaan lain…Nah bagaimana dengan hal ini ustadz??Bukankah ini seperti pajak juga??
    dan satu lagi…saat ini saya yakin kalo direktorat jenderal pajak sudah bersih dan tdk lagi menjadi sarang KKN…karna sudah direformasi ustadz..jadi syubhat masalah KKN sangat minim kalo di dirjend pajak…

  8. abu abdullah haidar
    October 5, 2009 at 11:40 am

    Assalamualaikum ustadz…
    menanggapi pertanyaan abu abdullah…
    ana salah satu pegawai yang bekerja di kantor perpajakan, qodarullah, ana alhamdulillah biidznillah sudah kenal manhaj ini beberapa waktu, dan ana yakin manhaj Salaf inilah jalan yang selamat, yang ana yakini masalah pajak, pajak ini memang tidak ada dalam syari’at islam, terus terang aja ana memang pingin keluar dan seharusnya memang keluar dari kantor ini, tp karena ada beberapa alasan sampai sekarang ana belum bisa keluar, dan mungkin ada banyak teman-teman senasib dengan ana…salah satunya ikatan dinas yang kami tandatangani dulu sebagai ikatan dengan pemerintah yang menjelaskan kami harus bekerja selama 10 tahun, jika tidak maka akan dihadapkan dengan pengadilan,hutang orang tua yang digunakan untuk membiayai kami kuliah dulu..dan ana berjanji untuk membayarnya…mohon tanggapannya..dan solusinya..jazakalloh

  9. Abu Mujahid Robbani Tauhiddin
    October 6, 2009 at 4:30 pm

    ana izin ngeshare diblog ana. syukron ustadz. ana sementara masih copy paste, mungkin saatnya nanti juga menulis sendiri. insya Allah silahkan liat blog ana http://mufti84robbani.wordpress.com/

  10. orion
    October 12, 2009 at 11:59 am

    Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.(bisa diliat d undang_undang perpajakan)
    mo nanya neh,,kalo emang pajak haram,,,trus ntar negara dibiayai sama apa?..mendukung pernyataan mas abu abdullah,,emang lbih kurang 80% APBN brasal dari pajak migas dan non migas,,
    syukron atas jawabannya,,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: